Bingkisan – tajuk KONTAN
Kontan 6 Januari 2003
Apa sih yang jadi harapan masyarakat Indonesia tahun 2003? Amin, seorang tukang becak yang biasa mangkal di depan kompleks rumah saya berharap, "Mudah-mudahan tetep bisa narik, penumpang tambah banyak dan becak kagak dilarang."
Lain lagi komentar staf humas sebuah departemen yang biasa melobi DPR. "Semoga DPR membahas aturan yang diusulkan pemerintah tanpa harus dilobi," katanya. Berbagai harapan anggota masyarakat itu punya satu benang merah: mereka ingin roda bisnis berputar sewajarnya, kesejahteraan mereka meningkat, dan tak ada beban tambahan yang membuat ekonomi biaya tinggi.
Sialnya, harapan ini bakal sulit terwujud. Tarif BBM, telepon, dan listrik justru akan naik. Hidup makin sulit. Indonesia memang belum keluar dari kubangan krisis ekonomi. Bagaimana mau keluar, wong perilaku kita belum berubah.
Ketika mengurus KTP, kita lebih suka memberi uang rokok buat pegawai kelurahan daripada repot sendiri. Agar kredit lebih cepat disetujui, menyelipkan amplop di map dokumen persyaratan kredit juga sudah biasa. Kalau mau tetap duduk di posisi yang basah di kantor, mumpung sedang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, memberi bingkisan tanda terima kasih untuk kolega, atasan, atau rekan bisnis tak lagi kentara bedanya dengan suap.
Bukannya mengharamkan bingkisan di hari raya, tapi kita selayaknya waspada bahwa bingkisan bisa menambah beban ekonomi nasional. Perusahaan yang memberi amplop kepada petugas di bank akan memasukkan ongkosnya sebagai beban produksi. Akibatnya, harga yang dipatok ke konsumen tambah mahal.
Wartawan yang menerima bingkisan dengan nilai berlebihan akan membuat pemberitaan mereka tidak obyektif. Begitu pula dengan anggota DPR yang mendapat hadiah, akan menyusun UU yang condong menguntungkan pemberinya. Yang pasti, segala bingkisan tak wajar cuma merugikan kepentingan rakyat banyak.
Nah, mari tahun ini kita mulai berbisnis sesuai aturan main: tanpa amplop ataupun bingkisan berlebihan
Comments