Merakit Sepeda
Marin. Begitulah merek frame sepeda baruku. Niat semula, ingin membenahi sepeda kesayangan yang sudah usang. Sepeda balap tua, dibelikan ortu waktu naik kelas V SD ke ke kelas VI SD, awal tahun 80-an.
Walau uzur, tapi sepeda itu tetap kusayang karena punya sejarah yang panjang dan tak terlupakan. Dengan sepeda balap tua tersebut, aku ikut kegiatan ekstrakurikuler selama duduk di bangku SMP.
Hampir setiap hari, pulang sekolah, makan, lalu genjot sepeda ke sekolah lagi. Entah untuk ikut ekstrakurikuler bola voli, basket, atau sekedar berlatih yoga. Pokoknya hampir setiap hari dipakai agar tak mengeluarkan ongkos ekstra.
Waktu SMA, sepeda ini juga yang menemani setiap pagi, berangkat dari rumah di Halim ke Pejaten Barat 10A, Jakarta Selatan. Kalau pulang sekolah, ada banyak mobil teman yang bisa dipakai untuk tumpangan sepeda plus orangnya.
Waktu SMA pula, sepeda bermerek Sanki van Jepun ini yang kupakai menyusuri jalan Pantura, mulai dari Bekasi-Cikampek-Sukamandi-Cirebon-Losari-Brebes lalu belok ke kanan menyuri jalan pinggir kali lewat Bumiayu-Purwokerto-Gombong-Purworejo dan berakhir di Jogjakarta.
Tapi apa mau dikata, sepeda itu kini sudah usang onderdilnya. Ada banyak karat yang tak mau pergi kendati sudah digosok setengah mati. Dengan niat belanja onderdil, akhirnya hari minggu (3/12) lalu aku pergi ke toko sepeda di Kramat Jati. Yerikho nama tokonya. Asyik ngobrol dan melihat-lihat sepeda, walhasil bukan memborong onderdil, melainkan pulang dengan menunggang sepeda baru. Ya, itulah si MARIN. Hasil rakitan baru, rekomendasi dari beberapa kenalan sesama pengunjung toko yang kebetulan datang pada hari itu.
Comments