Syahbandar – tajuk KONTAN



Kontan 22 Oktober 2002

Dulu, syahbandar memegang peranan kunci dalam memajukan suatu daerah. Maklum, syahbandar berkuasa penuh di pelabuhan, pintu gerbang keluar masuk barang dagangan. Bila syahbandarnya baik, perdagangan di daerah itu ikut maju. Pelabuhan makin ramai dikunjungi kapal dagang dan pemerintahan makin kaya karena pendapatan pajak yang makin besar.


Tapi, syahbandar sering menyalahgunakan kekuasaannya. Pedagang yang mendapat untung dari berdagang rela berbagi rezeki dengan memberi sedikit upeti. Tujuannya jelas, kemudahan berdagang di kemudian hari. Atau, sebagai sogokan agar barang dagangan mereka bisa bebas keluar masuk tanpa diperiksa atau bahkan bebas dari pungutan pajak.


Kini, jabatan syahbandar mirip Ditjen Bea & Cukai. Sayang, masyarakat sudah kadung tak percaya pada badan ini. Maraknya penyelundupan sudah jadi rahasia umum. Mulai dari kayu gelondongan, sembako, solar, mobil mewah hingga sampah diselundupkan. Lalu, apa kerja syahbandar?

Yang pasti, ada saja berita penangkapan barang selundupan di mass media. Tapi, orang menganggap ini cuma seremonial. Bagaimana mungkin ada banyak wartawan yang meliput saat sang ditjen melakukan inspeksi dan mengungkap penyelundupan? Tak heran ada kesimpulan, kasus penyelundupan yang terungkap cuma beberapa, tapi ratusan bahkan ribuan kasus lain tertutup rapat.



Nah, mulai 1 Oktober lalu Ditjen Bea & Cukai Eddy Abdurahman yang baru diangkat bulan September menerapkan aturan baru yaitu jalur prioritas. Teknisnya, importir yang baik bebas dari pemeriksaan saat memasukkan barang serta boleh menunda pembayaran tagihan bea masuk dan pajak. Tujuannya, Bea & Cukai bisa berkonsentrasi memeriksa barang ekspor impor yang dilakukan pengusaha yang tak bonafide karena merekalah biasanya dalang penyelundupan.

Efektifkah hal ini? Wallahualam. Biasanya sih, aksi macam ini cuma gertak sambal pejabat baru; sedang kita sangat membutuhkan syahbandar dan anak buahnya yang jujur, bijak, dan tak makan suap.

Comments

Popular Posts