Prasangka - tajuk KONTAN
Kontan 18 Agustus 2003
Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan mengunjungi Timur Tengah. Saat mendarat di bandara Istanbul, Turki, petugas imigrasi memeriksa saya. Walau pada awalnya kelihatan ramah, tapi petugas imigrasi yang kebetulan wanita cantik ini mengajukan pertanyaan dengan tegas. Inti pertanyaannya, apakah benar barang-barang yang saya bawa milik saya sendiri dan tidak menerima titipan barang dari orang lain.
Kendati tahu bahwa pemeriksaan semacam itu adalah hal yang lumrah di bandara, tapi begitu selesai diperiksa, saya bertanya sambil bercanda, apakah pertanyaan yang diajukan pada saya adalah prosedur standar ataukah karena saya berasal dari Indonesia. Maklum tepat pada hari itu, Turkish Daily News –satu-satunya harian berbahasa Inggris di sana—menampilkan pernyataan Abu Bakar Ba'asyir yang dikutip besar-besar dalam headline-nya,"God forgive us." Sang petugas pun cuma menyunggingkan senyum sebagai jawaban. Saya lega karena dia tak berprasangka dan mencurigai saya sebagai teroris.
Ba'asyir teroris atau bukan, jelas bukan hak saya menghakiminya. Yang saya tahu, akibat pemberitaan di media massa, opini masyarakat dunia bahwa Indonesia adalah salah satu sarang teroris saat ini semakin mengkristal. Apalagi, minggu lalu terjadi lagi ledakan bom di hotel JW Marriot, Jakarta. Akibatnya, Indonesia sebagai negara makin susah karena dijauhi investor.
Program pemulihan ekonomi yang sudah lambat makin mengalami penurunan kecepatan. Pengusaha juga makin repot karena harus menghitung ulang ketidakpastian iklim usaha yang risikonya makin besar. Warga negara Indonesia di luar negeri juga makin susah karena dicurigai kalau-kalau berhubungan dengan teroris.
Inilah prasangka. Prasangka berdasarkan subyektifitas yang seringkali tidak tepat. Nasib lebih jelek seringkali harus menimpa orang yang tidak berdosa akibat prasangka ini. Seorang teman saya baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Amerika dan sudah diterima untuk melanjutkan ke jenjang S3. Malang, dia harus pulang ke Indonesia untuk memperpanjang visa. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menunggu dan menunggu. Dalam kegalauannya, dia hanya bisa berdoa.
Iklim prasangka ini bisa terus berkembang dan menjadi sangat merugikan karena saling curiga-mencurigai antar kelompok masyarakat, antar agama, antar suku atau antar kelompok pengusaha. Untuk menghilangkan prasangka negara melindungi teroris, pemerintah yang harus cepat ambil kendali. Seperti halnya bom Bali, pemerintah cepat bereaksi. Tapi bagaimana dengan kecurigaan korupsi?
Comments