Bahagia Ala Baduy
Cuma ada dua batang bambu yang diletakkan
miring, bersandar pada atap rumah. Namun dua batang bambu itu cukup untuk
menandai, bahwa tamu, selain orang Baduy Dalam, dilarang melintas. Ada lapangan
tak seberapa luas di balik batas bambu itu.
Dan di seberang lapangan, terdapat rumah yang
agak terpisah dari deretan rumah lainnya. Itulah rumah tempat pemimpin Baduy
Dalam yang disebut Pu’un tinggal. Bak istana negara, selain yang
berkepentingan, dilarang melintasi halaman istana. Dua batang bambu tadi itulah
yang menjadi batas.
Pu’un tak banyak bersosialisasi. Ia lebih
banyak berhening diri dan hanya makan, makanan dari hasil ladang di sekitar
perkampungan Baduy Dalam. Kepekaan batin seorang Pu’un sangat tinggi sehingga
kata-katanya wajib didengar dan diikuti oleh seluruh warga Baduy Dalam.
Adapun urusan mengatur warga dalam hal-hal
teknis seperti bercocok tanam, menentukan lahan bagian mana yang digarap tiap
keluarga pada musim tanam tertentu, musyarawarah antarwarga hingga upacara
adat, diatur oleh Jaro. Ada beberapa Jaro yang tinggal di beberapa rumah,
berderetan dekat dengan rumah Pu’un. “Itu adalah rumah inventaris, kalau sudah
tidak menjabat Jaro, ia kembali ke rumahnya sendiri,” kata Sarta, salah satu
anggota Suku Baduy Dalam yang menemani kami.
Di sisi lain lapangan rumah Pu’un, ada juga
lapangan yang biasa dipakai untuk berbagai macam acara, mulai dari pesta adat,
upacara pernikahan hingga sunatan massal anak-anak suku Baduy Dalam. Sunatan
massal tidak dilakukan setiap saat, cuma diadakan setiap 3 tahun. Lapangan ini
terletak di depan satu-satunya rumah yang memiliki dua pintu di sana. “Rumah
itu adalah tempat untuk musyawarah dan berkumpulnya warga,” timpal Narja,
anggota Suku Baduy Dalam lainnya.
Ada 3 perkampungan suku Baduy Dalam, yaitu
Cibeo, Cikatawarna dan Ciekeusik. Masing-masing kampung memiliki keunggulan.
Masyarakat di Cibeo terampil bercocok tanam, sementara Cikatawarna kuat di
bidang pengobatan. Adapun masyarakat di Ciekeusik lebih menonjol dalam bidang
spiritual.
Perbatasan
Bukan hal yang mudah untuk mencapai perkampungan
suku Baduy Dalam. Yang paling dekat untuk mencapainya adalah melalui desa
Cijahe. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam berjalan kaki untuk masyarakan awam dari
Cijahe menuju perkampungan Cibeo, tempat kami bertandang.
Sementara kalau melalui termina Ciboleger yang
lebih populer, dibutuhkan waktu 3-4 jam untuk mencapai Cibeo, tergantung dari
kekuatan dengkul kita karena jalan setapak untuk mencapai Baduy Dalam
naik-turun bak main roller coaster. Adapun
untuk warga kampung Cibeo, mereka cuma butuh setengah jam mencapai Cijahe dan
satu jam ke Ciboleger.
Begitu memasuki perbatasan Baduy Dalam,
pengunjung harus melepaskan diri dari kebiasaan dunia luar dan mengikuti aturan
main adat Baduy Dalam. Aturan itu antara lain tak boleh menggunakan kamera
untuk merekam gambar atau video, tak boleh menggunakan sabun untuk mandi atau
tak boleh menyalakan musik dari gawai. Selain tak ada signal, listrik juga tabu
buat masyarakat Baduy.
Keindahan dan pengetahuan pengunjung yang pernah
datang ke Baduy Dalam, cukup direkam dalam ingatan dan menjadi cerita sahaja.
Tapi jangan khawatir, pemandangan dan keindahan serta perkampungan masyarakat
Baduy Luar masih bisa didokumentasikan.
Oh iya. Wisatawan asing juga cuma diperbolehkan
berkunjung ke Baduy Luar. Mereka, dilarang memasuki area Baduy Dalam. Terkait
hal ini, cerita yang saya dapatkan dari beberapa warga Baduy Dalam tak lepas
dari penolakan mereka terhadap penjajah Belanda sehingga mereka menerapkan
aturan demikian.
Kami memarkir kendaraan dari Ciboleger dengan
pertimbangan ingin menikmati keindahan perjalanan dan merasakan perkampungan
Baduy Luar, sebelum sampai ke perbatasan di mana kami tak lagi bisa menggunakan
kamera di handphone. Sebab kalau dari
Cijahe, jaraknya terlalu dekat untuk mencapai perbatasan sehingga akan minim
dokumentasi.
Yang paling populer dan menjadi tujuan wisata di
Baduy Luar adalah Gazebo. Gazebo merujuk pada nama desa di mana terdapat
jembatan gantung berbahan bambu yang cukup panjang. Di sisi kanan dan kiri
sungai, terdapat dua pohon besar yang dipakai sebagai fondasi jembatan gantung
tersebut. Arsitektur jembatan gantung ini cukup unik sehingga menarik wisatawan
untuk mendokumentasikannya.
Keramaian pengunjung, biasanya berakhir di desa
Gajebo ini. Sebab untuk menuju Gajebo saja, sudah cukup memeras keringat.
Selain dapat berfoto-foto, di sepanjang perjalanan menuju Gajebo, pengunjung
akan melewati perkampungan Baduy Luar yang
banyak menjajakan souvenir, mulai dari ikat
kepala, kain batik motif Baduy Luar dengan warna dominan biru hingga tenun
hasil kerajinan tangan masyarakat setempat. Ada juga penjual minuman kemasan
dan kelapa muda di sepanjang perjalanan.
Setelah melewati Gajebo, perjalanan makin menarik
karena hiruk-pikuk pengunjung tak ada lagi. Kami masih harus melewati beberapa
desa Baduy Luar dengan jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun. Sebagian besar
jalan sudah ditata dengan batu kali sehingga berundak-undak seperti tangga.
Tapi di beberapa bagian jalan masih berupa tanah sehingga licin, terutama
setelah hujan.
Ada bagian jalan di mana kami menyusuri tepi
sungai sehingga suara gemericik air sungai seperti musik yang mengiringi
perjalanan. Belum lagi bila angin berhembus, rasanya sangat nyaman berada di
sana.
Setelah melewati jembatan yang menjadi perbatasan
Baduy Luar-Baduy Dalam, kami disambut oleh tanjakan yang sangat curam dan
panjang. Tanjakan Tembayung, namanya. Kami harus berhenti beberapa kali sebelum
mencapai puncak bukit untuk mengatur nafas, menurunkan detak jantung yang
berdetak makin cepat sembari memulihkan tenaga.
Di atas bukit tersebut, ada rumah ladang di mana
kita dapat beristirahat sejenak. Dari sana, kami masih harus melewati ladang,
area terbuka yang dipasangi jaring di atas untuk memerangkap kelelawar atau
burung elang yang kerap memangsa anak ayam milik penduduk.
Kalau di perkampungan Baduy Luar kita banyak
menemui kolecer, yaitu baling-baling atau kincir dari bambu/kayu yang berputar
sesuai arah angin, maka di Baduy Dalam kita akan mendapati bambu yang diberi
lubang di sisi kanan-kiri dan dipasang tegak di ketinggian.
Hikayat cerita, suara yang dihasilkan dari bambu
saat angin bertiup ini merupakan persembahan musik bagi Dewi Sri. Dengan
membuat Dewi Sri senang hatinya, diharapkan hasil panen mereka akan baik.
Lumbung
Sebelum memasuki perkampungan Cibeo, kami
melewati lumbung padi. Lumbung ini terletak terpisah dari perkampungan untuk
meminimalkan risiko, terutama risiko kebakaran. Hal ini tidak hanya berlaku
untuk masyarakat Baduy Dalam, tetapi juga Baduy Luar. Jadi, apabila ada
kebakaran yang melanda perkampungan, mereka masih memiliki stok bahan pangan
untuk bertahan hidup.
Lumbung padi ini pula yang menjadi ukuran
‘kekayaan’ masyarakat Baduy Dalam. Ada keluarga yang punya hingga beberapa
lumbung padi. Tapi ada juga keluarga yang cuma memiliki satu lumbung.
Ketersediaan lumbung ini hukumnya wajib. Kalau kepala keluarga sakit atau
meninggal dunia, keluarga mereka tetap bisa makan dengan adanya lumbung ini.
Padi yang disimpan dalam lumbung pun dapat
bertahan cukup lama. “Bisa disimpan hingga 50 tahun, hal itu karena kami tidak
menggunakan bahan kimia atau pupuk,” kata Narja menjelaskan.
Jauh sebelum pemerintah Indonesia bicara soal
jaminan ketersediaan pangan, masyarakat Baduy Dalam rupanya sudah menjalankan
prinsip tersebut. Mereka menyadari bahwa jumlah penduduk mereka bertambah
sementara ladang mereka terbatas. Oleh sebab itu, sekarang banyak orang Baduy
Dalam yang simpanannya terbatas, membeli beras di Baduy Luar untuk makan
sehari-hari supaya lumbung padi mereka tetap terjaga dalam jumlah simpanan
tertentu.
Dunia Luar
Yang
cukup menarik dari masyarakat Baduy Dalam adalah mereka sering terlihat di
Jakarta, berjalan beriringan 3-4 orang. Biasanya, mereka membawa madu, gula
aren atau Pakaian Baduy Dalam yang dipesan oleh kenalan mereka di Jakarta.
Untuk sampai di Jakarta, mereka membutuhkan waktu 3 hari berjalan kaki tanpa
alas kaki.
Pun
selama di Jakarta, mereka berkeliling dengan berjalan kaki. Selain memenuhi
pesanan, tradisi pergi ke Jakarta ini juga dipakai untuk meng-update perkembangan dunia luar. Dalam
obrolan selama perjalanan, mereka bahkan mengetahui soal ojek online, jenis mobil yang sedang populer
hingga gedung-gedung terbaru di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.
Mereka
tahu persis, di satu sisi perkembangan teknologi begitu menggiurkan. Tapi di
sisi lain, mereka memilih untuk tetap hidup sebagaimana adanya karena ukuran
kebahagiaan yang mereka miliki, pada dasarnya juga tak lekang oleh zaman. “Kami
sudah bahagia kalau istri dan anak sehat dan dapat makan,” tutur Sarta sambil
tertawa.
Tawaran
kehidupan kota, mereka sadari juga mengandung konsekuensi yang berat. “Kalau
sakit, harus ke dokter, mahal. Di sini, kami bisa mendapatkan obat dari
tumbuh-tumbuhan di sekitar desa,” imbuhnya.
Namun
demikian, mereka tetap memperkenalkan kehidupan kota besar pada anak-anaknya.
Sarta, baru 2 bulan lalu mengajak Aja, anaknya yang berumur 17 tahun untuk
pergi ke Jakarta pertama kali. “Kepalanya selalu ke atas melihat gedung-gedung
tinggi, sampai ngga lihat kanan-kiri ada mobil,” kata Sarta terbahak,
menceritakan pengalaman anaknya, sementara Aja tersipu malu.
Selain
memperkenalkan kehidupan kota besar, di Jakarta Sarta juga ‘melatih’ kedewasaan
anaknya. Terkadang, Sarta bersembunyi saat Aja asyik mendongak ke atas, melihat
gedung-gedung. Dari kejauhan, Sarta memperhatikan, bagaimana anaknya tersesat
dan belajar survive di tengah lalu
lalang orang dan kendaraan.
Ada
banyak cerita lucu yang mereka bawa setiap kali pulang dari Jakarta. Narja,
misalnya. Saat janjian dengan kenalannya di Mall, dirinya hampir tidak bisa
masuk ke Mall tersebut karena dihadang orang yang tak henti-hentinya bergantian
meminta foto bersama dirinya.
Atau
juga kesulitan orang-orang Baduy Dalam ketika harus berhadapan dengan petugas security di komplek-komplek perumahan
atau perkantoran untuk bertemu dengan kenalan mereka. Semua cerita itu
mengundang senyum dan pengetahuan bagi sesama masyarakat Baduy Dalam. Di sisi
lain, mereka mendapatkan pelajaran dari melihat kehidupan di perkotaan bahwa
hiruk-pikuk masyarakat di kota ujung-ujungnya adalah untuk mencapai
kebahagiaan, di mana selama ini, sudah mereka dapatkan melalui cara hidup dan
cara pandang yang sederhana.

Comments