Jangan Mengaku Pencinta Kopi!
Minum kopi bukan sekadar nongkrong di Starbucks atau Coffee
Bean. Ada banyak kopi lokal di Indonesia yang rasanya patut dicoba. Perlu juga mencoba cara penyajian kopi dan
sedikit pengetahuan untuk mendapatkan kenikmatan yang maksimal.
Minum kopi, belakangan makin ngetrend. Selain karena makin menjamurnya kedai kopi modern seperti
Starbucks, kedai kopi lokal pun makin ramai dikunjungi anak-anak muda sebagai
tempat kongkow. Demam kopi ini tidak
hanya mendera kaum lelaki. Kaum hawa pun, belakangan ini ikut tersihir pesona
kopi. Apalagi, belum lama ini bioskop papan atas memutar film “Filosofi Kopi” yang
dibintangi aktor macho Chico Jerikho, makin menambah gandrung wanita
menyambangi kedai kopi.
Tapi jangan buru-buru mengaku pencinta kopi kalau Anda
miskin pengetahuan tentang produk andalan ekspor yang menempatkan Indonesia di
urutan ke-3 eksportir kopi dunia ini. Thanks
God, penjajah Belanda telah mengajarkan pada petani di Indonesia, cara
bercocok tanam kopi yang baik. Itu sebabnya, Indonesia kaya akan
keanekaragaman cita rasa kopi, mulai
dari kopi Aceh, Jawa, Bali, Toraja, Gayo, Flores hingga Papua. Itu baru
kopi-kopi yang kondang. Belum lagi daerah-daerah kecil yang jarang disebut
dalam peta kopi nasional, tapi sesungguhnya memiliki cita rasa yang unik. Sebut
saja Pati, Sumedang, Banjarnegara atau Probolinggo.
Cita rasa kopi
Tahukah Anda berapa harga pokok penjualan (cost of goods sold, COGS) secangkir kopi
di Starbucks? Saya berani pastikan, harganya di bawah Rp 10.000 per cup. Artinya,
kendati Anda harus membayar 3-5 kali lipat, kedai Starbucks tetap diserbu
pembeli. Starbucks bahkan sudah menjadi benchmark
cita rasa kopi. Kita bukan saja merindukan rasa kopi Starbucks, tapi juga
merindukan aroma kopinya. Dan, kita juga seringkali merindukan nongkrong di Starbucks.
Itu untuk kaum urban kelas menengah. Sementara kelas
masyarakat lainnya, punya cita rasa yang berbeda. Mereka yang lebih senang
dengan kopi hitam dan merasa harga Starbucks kemahalan, lebih suka menyeduh
sendiri kopik bubuk seperti kopi merek Kapal Api dan sejenisnya. Jenis kopi
ini, disebut kopi commercial. Dengan menyeduh sendiri, kepekatan kopinya
bisa diatur sesuai selera dan disajikan dengan air panas mendidih sehingga
menimbulkan rasa ‘mantab’ yang berbeda.
Selain itu, ada juga yang lebih menyenangi kopi bungkus instant. Mereka yang gemar minum kopi sachet ini, merasa takaran kopi dan gula
atau ditambah susu yang dibuat pabrik sudah cocok dengan selera lidahnya.
Nah, di luar kelompok penggemar kopi di atas, ada kelompok
lain yang mengaku penggemar kopi ‘sejati’ atau dikenal penggemar kopi specialty. Mengapa? Karena menurut
mereka, kopi bukan cuma Starbucks atau kopi commercial.
Kalau penggemar wine mengaku ada aroma, cita rasa di lidah dan after taste saat mencecap wine; begitu
pun dengan kopi. Selain tiap daerah memiliki kelembaban tanah dan iklim yang
berbeda, perawatan tanaman kopi yang berbeda, juga akan mendapatkan hasil panen
biji kopi yang berbeda kualitasnya. Belum lagi, cara mengolah biji kopi hasil
panen mulai dari penyimpanan, men-sangrai/roasting
hingga menyeduh kopi akan memberikan efek kenikmatan yang spesial.
Menikmati kopi
maksimal
Oleh sebab itu, jangan heran kalau penikmat kopi sejati,
minum kopi tanpa gula. Tapi bagi pemula, ada dua hal penting yang wajib
hukumnya untuk diingat agar bisa mendapatkan rasa kopi yang maksimal, yaitu brewing time dan brewing ratio.
Brewing time
adalah waktu yang paling ideal untuk menyeduh kopi sehingga menghasilkan cita
rasa maksimal, yaitu empat menit. Artinya, Anda bisa memisahkan air kopi ke dalam
cangkir setelah empat menit. Apabila terlalu lama, maka proses brewing terus terjadi sehingga rasa kopi
Anda akan semakin pahit dan asam.
Adapun brewing ratio
adalah perbandingan antara kopi dan air untuk mendapatkan kekentalan yang enak
untuk diminum. Ratio 1:10 artinya, 1 gr kopi diseduh dengan 10 cc air. Terlalu
banyak air akan menghasilkan kopi yang encer, sementara terlalu sedikit air
akan menghasilkan kopi yang kental. Nah, tentu saja kekentalan ini tergantung
selera. Tapi penikmat kopi menyarankan golden
ratio untuk kopi yang nikmat sekitar 1:17,5. Saya sendiri, menikmati ratio
1:15 untuk memenuhi selera kopi yang nikmat.
Selain dua hal di atas, ada takaran lain yang membuat kopi
terasa nikmat, yaitu kesegaran atau freshness
kopi. Bagi penikmat kopi, mereka akan lebih senang membeli kopi dalam bentuk biji
atau greenbean dan sedikit bersusah
payah untuk men-sangrai dan menggilingnya sendiri sebelum diseduh, dengan
alasan bahwa kopi yang nikmat adalah kopi yang segar.
Lalu bagaimana mengetahui daya tahan kopi sehingga bisa
dikatakan masih segar? Sekali lagi, jangan buru-buru mengaku penggemar kopi
kalau Anda masih menyimpan kopi bubuk berminggu-minggu. Seperti disebutkan di
atas, kopi yang segar adalah kopi yang diseduh selama empat menit. Adapun kopi
dalam bentuk bubuk, akan dibilang segar bila tak lebih dari satu jam setelah
digiling.
Nah lho, repot
kan! Sebab artinya, untuk menjaga kesegaran kopi, Anda harus menggiling menjadi
kopi bubuk atau melakukan grinding
maksimal satu jam sebelum menyeduhnya.
Sementara kopi roasted alias
yang sudah disangrai, akan tahan disimpan selama 1 bulan untuk menjaga
kesegarannya. Paling tahan lama untuk menyimpan kopi memang dalam bentuk green bean, yaitu 2-3 tahun.
Tertarik mencicipi kopi single
origin yang special? Cobalah, sebab kalau Anda mau belajar menikmati, kopi specialty ini memiliki polarisasi rasa
di dalam mulut yang berbeda satu sama lain. Takut mencobanya tanpa gula?
Cobalah tambahkan susu yang dipanaskan sampai suhu 60 derajat Celcius. Pada
suhu tersebut, susu akan berubah rasa menjadi manis dan tidak sekedar plain. Campuran kopi dan susu panas ini,
memiliki nama keren caffee latte atau macchiato, tergantung pada takaran susu
yang dicampurkannya.
Box:
Sakit maag minum kopi? Kenapa tidak!
Banyak orang bilang, jangan minum kopi kalau Anda memiliki
sakit maag. Pendapat ini tak
sepenuhnya keliru. Sebab, orang berpenyakit maag memiliki asam lambung yang
tinggi. Sementara kopi, selain kepahitan (bitterness)-nya,
juga memiliki tingkat keasaman (acidity)
yang bagi banyak orang, justru membuatnya terasa nikmat.
Dalam hal acidity
inilah, penderita maag akan
bermasalah bila minum kopi. Kendati begitu, Anda perlu mengetahui bahwa kopi
memiliki tingkat keasaman yang berbeda-beda. Diurutkan dari penghasil kopi yang
memiliki tingkat keasaman paling tinggi adalah Bali, Jawa, Toraja, Flores,
Papua, Aceh dan Mandailing.
Jadi kalau Anda penderita maag, sebaiknya memilih kopi Mandailing yang tingkat keasamannya
paling rendah. Tapi kalau Anda mau merogoh kocek lebih dalam, maka kopi luwak
adalah pilihan lain yang cukup baik. Sebab secara alamiah, keasaman kopi ikut
luntur selagi kopi melewati pencernaan binatang malam luwak ini.
Satu lagi pilihan untuk menghindari keasaman kopi adalah
kopi yang diseduh dalam keadaan dingin (cold
brewing). Dengan brew ratio 1:5,
kita bisa menyeduh kopi dalam suhu ruang. Tapi, kita harus mendiamkan proses brewing ini selama minimal 12 jam. Dengan
cara menyeduh dingin ini, keasaman kopi akan berkurang hingga lebih dari 60%.



Comments