Cihuynya Gowes ke Baduy
pengantar:
Tulisan ini sudah diunggah di website wartakota pada bulan Desember 2017:
Pernah mengenyam pendidikan bareng-bareng di
SMA Kolese Gonzaga, para alumni yang gemar bersepeda dan tergabung dalam
kelompok Gonzycling, melakukan kegiatan bersama. Kali ini, mereka mengayuh
pedal dalam perjalanan light touring ke kampung masyarakat Baduy, di Lebak,
Banten. Bersepeda bukan saja kegiatan positif yang membangun kebersamaan, namun
bersepeda turing memberikan banyak pengalaman lain dalam interaksi sosial
dengan masyarakat lokal. Bukan saja menyehatkan, bersepeda turing juga membasuh
jiwa
Sepenggal tulisan ini, menceritakan betapa
indahnya Indonesia secara geografis maupun budaya.
Pukul
10.40 WIB. Hujan lebat datang tiba-tiba di saat kami tengah bersusah payah
mengatur nafas di tanjakan. Konsentrasi untuk tetap waspada terhadap situasi
jalan raya sambil mengatur persneling sepeda yang pas agar otot betis dan paha
tidak kram, sejenak buyar.
Hari
itu, Sabtu (16/12), kami mengayuh pedal menuju Terminal Ciboleger, pintu masuk
menuju desa adat Baduy. Dari 8 orang yang berencana pergi, 2 orang batal pada
H-1. Jadilah kami ber-6 meneruskan rencana yang sudah diputuskan bulan lalu.
Kami
beruntung karena salah satu anggota rombongan, Max Agung Pribadi –yang sudah
katam gowes melanglang buana hingga ke Himalaya—bersedia menjadi guide perjalanan kali ini. Saya hanya
sempat berpandangan beberapa detik dengan Max ketika hujan turun. Hanya dari
sorot mata, tanpa berkata-kata, kami sudah mengambil keputusan bersama.
Perjalanan tidak boleh terhenti karena hujan.
Dan
jadilah kami tetap mengayuh pedal menembus hujan deras. “Kapan lagi main sepeda
hujan-hujanan ngga ada yang marahin,” kata saya menyemangati rombongan sambil
tertawa.
“Yakin
ngga sakit ini ya?” timpal anggota rombongan tertua, yang umurnya sudah kepala
5.
“Ngga, asal kita tetap gowes,” kata saya
yakin di tengah hujan yang makin deras.
Tanjakan panjang
Kami
terus bergerak, mendaki bukit. Jalan Leuwiliang sudah berada di belakang dan
kami masuk daerah Leuwisadeng, menuju Jasinga. Perut sudah mulai keroncongan
karena kami cuma sarapan Lontong Doclang di gerobak pinggir jalan. Seiring
dengan itu, hujan mereda.
Dengan
pakaian sepeda yang masih basah kuyub, kami masuk ke warung nasi sederhana. Tak
ada pilihan menu mewah. Yang tersedia cuma oseng-oseng sayur terong dicampur
jengkol plus tempe goreng dan ikan kembung goreng. Rasa lapar agaknya menjadi
bumbu paling sedap. Kami makan siang dengan lahap. Tawa dan canda membuat rasa
lelah meluntur.
(insert foto di tanjakan)
Tapi
kami tak boleh berlama-lama. Pakaian yang basah akan membuat kami kedinginan
kalau tak bergerak. Kami meneruskan perjalanan menuju Jasinga. Lewat cerita Max
kami tahu bahwa letak kota kecamatan Jasinga seperti di dalam mangkok. Untuk
mencapainya kami harus menuruni bukit dan begitu melewatinya, kami harus
menanjak lagi. Kali ini, tanjakannya lebih dahsyat dari yang sudah kami lewati.
Belum
15 menit kami menggowes, hujan datang lagi. Pakaian yang sebagian sudah
mengering kembali basah. Tapi karena badan kami panas, tak sedikitpun rasa
dingin terasa. Kami lebih berkonsentrasi mengatur nafas dan kesabaran karena
jalan yang naik turun seolah tiada berujung.
Satu
teman lagi tumbang. Otot pahanya menegang, tak mau diajak kompromi. Jauh
sebelumnya, teman yang paling bersemangat melakukan persiapan sepeda sudah
melempar handuk. Rute Bogor-Baduy ini, memang bukan untuk pemula. Selain
ketahanan otot, perlu penguasaan teknik bersepeda di tanjakan yang hanya
mungkin didapat lewat latihan.
Selain
itu, mengatur emosi agar tetap sabar mempertahankan cadence (irama) putaran pedal yang konstan adalah kunci menaklukkan
tanjakan panjang. Seringkali goweser kurang sabar, terburu-buru ingin melahap
tanjakan sehingga kehabisan energi di tengah tanjakan.
Namun
di atas semua urusan otot dan teknik bersepeda, faktor semangat merupakan kunci
utama. Kapan saja, goweser bisa berhenti mengayuh pedal di tengah tanjakan
panjang. Goweser yang memiliki semangat tinggi akan beristirahat sebentar dan
naik lagi ke atas sadel saat detak jantungnya sudah kembali normal, sementara
yang putus semangatnya memilih mundur.
GPS konvensional
Di
tengah derasnya hujan, kami tak lagi mengandalkan teknologi modern sebagai
penunjuk arah. Selain batere yang menipis, tak ada tempat berteduh yang dapat
dipakai untuk mengeluarkan gawai yang sudah kami masukkan dalam plastik supaya
tidak basah.
“Jalan
Raya Cipanas belok ke kiri.”
“Kalau
mau ke Ciboleger, pertigaan di depan ambil arah Ciminyak.”
“Jembatan kuning ikutin aja jalan ini terus. Tapi
itu masih jauh banget, Pak.”
Demikian
beberapa jawaban dari orang yang kami tanya di pinggir jalan. Sebagian dari
mereka menatap kepergian kami sambil menggelengkan kepala.
Memang,
cuma orang-orang nekad yang punya semangat tinggi yang tetap menembus hujan
deras, melewati hutan dan jalan naik-turun yang seolah tak berujung. Dan kami
ber-4 sudah berikhtiar harus sampai di Terminal Ciboleger sebelum gelap.
Senyum
kami mengembang ketika hujan deras menyisakan gerimis dan kami sampai di
jembatan besi bercat kuning. Dibangun sekitar tahun 1986 (menurut keterangan
orang Baduy), jembatan kuning ini menjadi penanda bahwa perjalanan kami sudah
semakin dekat. “Jembatan ini merupakan lorong waktu. Di seberang, kita masuk ke dunia lain, tempat
orang Baduy tinggal,” imbuh Max memompakan semangat pada kami yang sudah mulai
kehabisan tenaga.
Bak
berpacu dengan waktu, kami segera
kembali mengayuh pedal. Kali ini tujuannya sederhana: mencari teh panas dan
gorengan untuk mengisi “bensin” yang mulai mengirim signal lampu kuning
berkedip-kedip. Kami perlu asupan gula.
Sayang,
beberapa warung yang kami lewati, tak ada yang menyediakan gorengan. Sementara
itu, gerimis masih terus menemani. Badan mulai terasa dingin dan kayuh pedal
melemah. Terpaksa kami berhenti di warung kelontong. Dengan sedikit mengiba,
kami minta dibuatkan kopi sache yang nampak tergantung berderet-deret.
Warung
tempat kami beristirahat, terletak tepat di bawah tanjakan curam yang aspalnya
mengelupas. Jadi tepatlah kami mengisi tenaga dengan roti kampung yang
dicelupkan ke gelas kopi panas. Rasanya indah!
Penjaga
warung rupanya tahu kami sudah kelelahan. “Lewat jalan beton kecil itu saja,
memotong jalan dan ngga curam tanjakannya,” katanya sambil menunjuk jalan kecil
di seberang warungnya. Di tengah kegalauan, akhirnya kami memutuskan untuk
mengikuti nasehat penjaga warung.
Celakanya,
jalan kecil itu cuma dicor semen sebagian. Sisanya, tanah lempung yang jeblok
setelah diguyur hujan seharian. Tentu saja, melewati jalan ini, kami tak
mungkin menggowes sepeda. Dengan terpaksa, kami mengeluarkan jurus pamungkas:
tuntun sepeda.
Kafein
dan sedikit karbohidrat yang masuk ke tubuh kami sore itu, ternyata jadi modal
besar buat menyelesaikan perjalanan. Setelah rolling melewati tanjakan dan turunan, jalan yang kami lewati
bertemu dengan jalan terminal Ciboleger-Rangkasbitung. Dari pertigaan ini,
tujuan akhir kami tinggal sepelempar batu.
Pukul
17.30 WIB, kami tiba di terminal Ciboleger dan menutup perjalanan dengan
kegembiraan. Pakaian dan badan kami masih basah karena hujan yang mengguyur
bumi tiada henti, tapi perasaan hangat merambat keluar melalui pori-pori karena
kegembiraan yang kami rasakan.
Setelah
berfoto-foto sebentar, kami menutup gowes hari itu dengan makan indomie-telor!
Bermalam di Baduy
Selepas
magrib, saya dan Max lebih dulu masuk ke kampung Baduy Luar. Kami mencari rumah
tempat Max menginap tahun 2013 silam. Di tengah gelap malam tanpa penerangan
dan hujan deras, kami mengetuk rumah Pak Sarif.
Celaka!
Yang empunya rumah sedang pergi. Tapi beruntung, keluarganya membukakan kami
pintu rumahnya untuk menginap. Tak lama, teman-teman lain menyusul. Malam itu,
kami membilas diri dengan air hujan yang turun makin deras, lalu mengeringkan
badan dan berganti pakaian kering.
Istri
Pak Sarif rupanya telah merajang air ketika kami berganti pakaian. Di tengah
kegelapan malam, kami disuguhi kopi dan teh. Lumayan, menghangatkan tubuh kami
sebelum kantuk menghantarkan kami ke peraduan. Diringi gemericik air hujan,
kami tidur nyenyak!
Kokok
ayam membangunkan kami. Matahari, belum lagi muncul. Hawa dingin menelisik
masuk dari sela-sela dinding kayu. Rumah panggung khas Baduy tempat kami
menginap serasa hotel bintang lima. Ingin rasanya saya bermalas-malas di atas
matras tiup klymit yang saya bawa.
Tapi
saya tak mau kehilangan kesempatan menikmati Baduy. Saya bergegas bangun. Sudah
jauh-jauh gowes ke Baduy, kami ingin sight seeing. Jadilah pagi itu, jam 6.15
WIB pagi, kami berjalan-jalan ke kampung Baduy Luar lainnya.
Di
jalan, kami berpapasan dengan banyak orang Baduy Luar dari kampung lain yang
hendak beraktivitas, mulai dari pergi ke ladang, menemui saudara di kampung
lain hingga serombongan masyarakat Baduy Dalam yang berkunjung ke kampung Baduy
Luar.
Banyak
cerita menarik yang kami dapatkan selama beriteraksi dengan masyarakat Baduy.
Dengan mata pencaharian bercocok tanam, masyarakat Baduy dilarang menanam padi
dengan teknik sawah modern. Jadi, mereka menanam padi gogo yang menggantungkan
curah hujan untuk tumbuh.
Alasan
aturan ini, sistem pengairan dan sawah modern cenderung menggunakan pupuk untuk
merangsang pertumbuhan padi. Dengan demikian, air yang mengalir akan tercemar
pupuk dan tidak dapat mereka konsumsi lagi.
Dengan
teknik perladangan, hasil padi yang mereka peroleh cukup untuk kebutuhan makan
masyarakan Baduy sampai panen berikutnya. Oleh sebab itu, setiap kampung
memiliki kompleks lumbung yang sedikit terpisah dari area perumahan.
Masih
dari cerita mereka, ada 62 kampung Baduy Luar yang tersebar di Kabupaten Lebak.
Sementara Baduy Dalam masih menyisakan 3 kampung. Masyarakat Baduy Luar, masih
terikat dengan aturan dari tetua adat Baduy Dalam.
Seiring
dengan masuknya pengaruh budaya luar, masyarakat Baduy Dalam lebih giat
melakukan ‘razia’ di kampung-kampung Baduy Luar. Mereka masuk ke rumah-rumah
dan memeriksa mulai dari koleksi pakaian hingga peralatan dapur. Apabila
ditemukan pakaian berwarna hijau atau merah menyala, petugas akan menyita dan
membuangnya. Pun demikian dengan peralatan dapur modern, akan diambil dan
dibuang, bila ditemukan.
Disiplin
masyarakat Baduy yang tak pernah mengenakan alas kaki ke manapun mereka pergi,
menolak listrik dan budaya luar yang dirasa merusak aturan mereka, terasa
janggal di zaman modern ini. Namun bila Anda tinggal dan hidup bersama mereka
barang sehari-dua hari, Anda akan merasa bersyukur bahwa masih ada masyarakat
yang ketat menjaga kearifan lokal.
Satu
hal yang sangat disayangkan, sampah plastik mulai berserakan di sana-sini.
Sebagian besar sampah tersebut, tentu dibawa oleh wisatawan yang berkunjung ke
Baduy. Tapi sebagian kecil lainnya, masyarakat Baduy Luar mulai menggunakan
sabun untuk mencuci sehingga bungkusnya mengotori sungai. Belum lagi kantong
plastik yang mulai banyak digunakan, pasti menyisakan sampah yang kian menumpuk
dalam beberapa waktu ke depan.
Baduy
atau Badui? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulisan yang tepat
adalah "Badui" dan bukan "Baduy" (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes).
Tapi berdasarkan wawancara saya dengan beberapa orang Baduy Luar, mereka lebih
familiar dengan sebutan Baduy. Atau kalau mau lebih tepat, mereka menyebut diri
sebagai orang Kenekes.
Wilayah Kanekes masuk dalam Kabupaten Lebak,
Banten. Kendati letaknya tak seberapa jauh dari Ibukota Jakarta, namun bukan
perjalanan yang mudah untuk mencapainya. Terutama bila kami harus menempuhnya
dengan sepeda.
Sepanjang perjalanan pulang, tiada henti kami
bersyukur mendapat kesempatan berkunjung ke Baduy. Perjuangan ngos-ngosan di
tanjakan, tak ada artinya dengan pengalaman yang kami peroleh. Belum lewat
sehari merasakan lelah, kami sudah menawari teman-teman kami yang lain untuk
mengulang bersepeda ke Baduy.
Comments