Menggapai Kebersamaan di Mt. Kinabalu


Artikel ini sudah dimuat di website wartakota:
http://wartakota.tribunnews.com/2017/09/28/bersama-anak-mendaki-gunung-kinabalu


Pendakian Mt. Kinabalu dikelola sangat profesional. Tak ada sampah, khawatir tersesat plus penginapan mewah di ketinggian di atas lebih dari 3.000 mdpl. Pendaki tinggal menyiapkan mental, fisik dan keterampilan. Dan di atas itu semua, jangan lupa ke tujuan pendakian yang berbeda-beda bagi setiap orang.

Dingin dan mencekam. Selain sunyi, kami hanya bisa mendengar suara angin bersiut-siutan tiada henti menerpa dedaunan di luar penginapan. Sesekali, terdengar suara cipratan air yang terlempar ke jendela, diterjang sang bayu. Hujan gerimis, memang sudah turun sejak sore.

Hari itu, Sabtu (23/9) dini hari. Waktu baru menunjukkan pukul 02.00 ketika petugas Pendant Hut, resthouse tempat kami menginap yang berada di ketinggian 3.319 meter di atas permukaan laut (mdpl) mengetuk pintu kamar dan meminta kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung (Mount,Mt) Kinabalu yang berketinggian 4.095 mdpl.

Berat rasanya membuka mata di pagi buta seperti itu. Apalagi, perjalanan sehari sebelumnya, dari pintu masuk awal pendakian yang disebut Timpohon Gate hingga ke kompleks penginapan Laban Rata cukup menguras tenaga. Berbeda dengan kebanyakan jalur pendakian gunung di Indonesia, jalur di Kinabalu cenderung langsung menanjak terus menerus dan tidak berkelak-kelok. Tidak banyak ‘bonus’ (jalan datar) –apalagi jalan menurun-- di sepanjang rute pendakian. Mengacu istilah kekinian, pendaki ‘ngga dikasih kendor’ selama perjalanan.

Menunggu Ranger.
Lazimnya, begitu bangun, para pendaki dapat langsung bersiap-siap, makan makanan yang sudah disiapkan di penginapan dan langsung berangkat. Tapi hari itu, akibat badai angin dan hujan, pintu gerbang ke arah puncak belum dibuka. “Kita harus menunggu isyarat dari ranger (penjaga kawasan hutan) dulu, apakah boleh atau tidak dilakukan pendakian pada hari ini,” kata Sylvester, salah satu dari tiga penunjuk jalan (guide), –merangkap porter— yang kami sewa untuk menemani pendakian Mt. Kinabalu.

Kami 15 orang berombongan dari Jakarta, berencana menikmati perjalanan dan  melakukan reuni kecil, sambil mendaki Mt. Kinabalu. Kelompok inti adalah beberapa alumni angkatan 1 di SMA Kolose Gonzaga yang ingin bernostalgia melakukan pendakian gunung, sebuah aktivitas yang 30 tahun silam, kerap kami lakukan. Dibantu Indonesia Expeditions untuk mengkoordinir perjalanan ini, ada beberapa simpatisan yang ikut bergabung. Salah satunya, saya mengajak anak saya, Ariobumi, siswa kelas XII di SMA Kolese Gonzaga. Jadi, anggap saja dia bepergian bersama para alumni senior sekolahnya, di mana salah satu seniornya adalah Bapaknya sendiri.

Melakukan aktivitas naik gunung bersama dengan anak, buat saya adalah kemewahan tersendiri. Setelah mengajarinya untuk pertama kali naik Gunung Merapi di Jawa Tengah, saya sudah mengajaknya mendaki puncak Gunung Rinjani di Lombok. Dan selalu saja, saya tak sabar setiap kali akan melakukan perjalanan naik gunung bareng anak lanang.

Sebagai generasi milenial, dia selalu sibuk dengan gawainya. Apalagi setelah menginjak bangku SMA, makin tak banyak waktu yang tersedia bagi saya untuk mengobrol. Nah, naik gunung bersama adalah kesempatan untuk mengobrol di alam terbuka, tanpa gadget dan hiruk pikuk rutinitas, sambil tak lupa bersyukur, boleh menikmati keagungan karya ciptaNYA.


Memilih berhenti
Pukul 02.30, kami mendengar kabar dari Sylvester bahwa ranger memperbolehkan pendaki melewati gerbang dan menuju puncak. Kalau tadinya kami agak ‘ogah-ogahan’ karena belum ada kejelasan, sekarang kami bersemangat untuk segera berganti pakaian. Saya tidak sempat mengecek suhu di luar saat itu. Tapi pada sore harinya, suhu yang terbaca adalah 2 derajat Celcius. Namun, suhu yang terasa di tubuh atau real feel jauh lebih rendah karena disertai angin kencang dan hujan.

Oleh sebab itu, kami membungkus tubuh beberapa lapis, mulai dari base layer, wind breaker hingga jas hujan (rain coat) di bagian terluar. Sementara sarung tangan dan topi penutup kepala dari dingin (beanie) menjadi piranti wajib, mengingat kami sudah berada di atas ketinggian 3.000 mdpl. Adapun head lamp merupakan keharusan setiap pendaki karena kami akan menembus kegelapan dan kedua tangan akan disibukkan memegang tali atau tongkat pengaman.

Pukul 03.00 waktu setempat, kami berangkat. Sebelumnya para guide sudah tak sabar menunggu kami bersiap-siap. Sebab, kami harus tiba di Sayat-Sayat yang merupakan pos pencatatan terakhir pendaki yang menuju puncak, paling lambat pukul 05.00 pagi.

Dari 15 orang rombongan, cuma 12 orang yang akhirnya berangkat menuju Puncak. Satu orang, sudah mengalami kelelahan fisik sejak sebelum sampai di penginapan dan satu orang mengalami mountain sickness. Sedang satu orang lainnya terpaksa mengurungkan niat ke puncak karena berdasarkan test kadar oksigen dalam darah yang dilakukan sebelum berangkat, oksigen dalam darahnya di bawah ambang batas. Rendahnya oksigen dalam darah ini dapat disebabkan oleh kelelahan atau kurangnya waktu istirahat yang cukup. 

Sayat-Sayat berada di ketinggian 3.668 mdpl. Artinya, dari penginapan cuma berjarak sekitar 450 meter vertikal. Kendati begitu, medan yang harus kami lalui sungguh tidak mudah. Etape pertama, kami harus melewati jalur bebatuan yang masih ditumbuhi vegetasi. Jalan berundak-undak yang rapi sudah dibuat dari kayu, menyelingi tanah dan batu-batu granit kokoh yang kami pijak.

Selepas batas vegetasi, tibalah kami di etape kedua, medan batu di udara terbuka. Hari masih gelap dan angin masih berhembus kencang. Titik-titik embun juga membasahi permukaan rain coat. Hoodie atau penutup kepala di rain coat atau wind breaker harus kami gunakan untuk mengurangi rasa dingin yang tanpa ampun menghantam kepala dan kulit di muka. Tak ada lagi tumbuhan yang bisa hidup. Pada etape ini, kemiringan jalur dapat mencapai lebih dari 30 derajat. Itu sebabnya, disediakan tali-tali besar yang dapat dipakai sebagai pegangan atau pengaman, sekaligus penunjuk jalan.

Kami harus berjuang menembus batas vegetasi mengingat oksigen yang makin menipis. Batas waktu yang tersedia, membuat kami tidak boleh beristirahat terlalu lama setiap kali ngos-ngosan kehabisan nafas. Sesekali gerimis yang lewat karena terbawa awan, masih kami rasakan menyiram muka dan lapisan terluar pakaian kami.

Kalau dalam perjalanan sehari sebelumnya, anak saya termasuk 3 orang pertama yang sampai di penginapan, di perjalanan pagi ini, dia tampak kesulitan mengejar rombongan di depan. Secara fisik, dia masih nampak tangguh. Tapi semangatnya meluntur ketika kami tiba di medan terbuka bertali.

Didampingi seorang guide, saya membantunya melewati medan bertali yang sebagian di antaranya juga dilewati aliran air. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30. Saya tidak mengalami kesulitan melewati track ini. Namun sebaliknya anak saya. Waktu kecil, dia memang tidak suka memanjat pohon. Ia pun takut ketinggian. Kombinasi dua hal ini membuatnya lambat bergerak.


Dua orang dari rombongan kami, akhirnya mendahului kami. Saya harus mengajarinya melangkah satu demi satu sambil anak saya terus berpegangan tali. Karena takut, seluruh tenaganya bertumpu di tangan. Pijakan kakinya pun tidak mantap dan ragu-ragu sehingga makin mudah tergelincir. Ini memboroskan energi. Keringatnya mengucur dari muka, padahal angin dingin masih bertiup.

Sementara itu, dua orang dari rombongan kami yang paling belakang, terpaksa harus mengurungkan niat menuju puncak karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 ketika mereka sampai di medan terbuka. Percuma meneruskan perjalanan karena tidak akan diizinkan melewati gerbang Sayat-Sayat.

Pada akhirnya, kami tiba di Sayat-Sayat, tepat sebelum pintu gerbang ditutup. Saya dipersilakan meneruskan perjalanan. Tapi celaka, guide yang mengiringi kami melarang anak saya ke puncak. Ia melihat anak saya kurang terampil di medan bertali. Padahal, perjalanan selanjutnya akan didominasi oleh medan bertali hingga ke puncak.

Matahari tetap belum muncul dari peraduannya. Sementara angin kencang masih berembus. Sesekali siraman rintik hujan terasa di muka. Saya berada di persimpangan jalan. Berfoto bersama teman-teman di puncak, sudah menjadi tujuan sejak awal. Tapi membiarkan anak saya sendirian menunggu di pos Sayat-Sayat tentu juga tidak bijaksana. Terutama karena cuaca dingin yang bisa mengakibatkan banyak hal bagi anak saya, karena dia belum terbiasa menghadapi situasi semacam itu.

Keputusan harus diambil cepat. Sebab, guide harus menyusul rombongan lain di depan. Mendadak saya ingat sebuah pesan, “Anaknya tolong ditemani dan dijaga ya...” Oh My God! Ingatan ini muncul di saat saya hampir memutuskan untuk meninggalkannya di shelter. Mana yang lebih penting, mencapai puncak, atau merengkuh kebersamaan dengan anak semata wayang? Apa tujuan saya naik gunung bersama anak saya kalau akhirnya saya harus meninggalkannya, sendirian, kedinginan.

Akhirnya saya memutuskan tidak meneruskan perjalanan.

Guide dengan cepat melangkahkan kaki meninggalkan kami untuk mengejar rombongan di depan.

"Ayah nggak apa-apa gak naik ke puncak?" Tanya Bumi begitu saya di sampingnya.

Saya tepuk punggungnya dan bilang bahwa saat ini lebih penting saya tetap bersama dengan dia. Ia terdiam. Walau tak terucap, dari mimik mukanya saya tahu, dia bersyukur saya tidak pergi.

Ke puncak bisa diulang lain waktu, tapi bersama dia di saat sulit jauh lebih penting dari apapun juga.

Saya menggiring Bumi mencari tempat terlindung dari angin. Tangannya mulai beku. Wajahnya pucat dan bibirnya menghitam. Saya dihinggapi rasa syukur tidak meninggalkannya sendirian.

Tak seberapa lama, seseorang memanggil nama saya. Rupaya satu dari rombongan kami kembali turun. Kakinya mulai gemetar dan langkahnya tak lagi mantab menapaki bongkahan batu-batu menuju puncak sehingga ia memutuskan turun. Kami bertiga menunggu terang, sebelum kembali ke penginapan.

Tersembul sedikit rasa kecewa hari itu melihat foto teman-teman yang mencapai puncak. Tapi perasaan yang lebih dominan adalah rasa syukur karena bisa menikmati kebersamaan dengan anak. Saya dapat mengulangi lagi pendakian ke Kinabalu, tapi (semoga) anak saya akan ingat sepanjang hidupnya, bahwa saya memilih menemaninya dan tidak membiarkannya kedinginan sendirian daripada menuruti ego mencapai puncak. Toh tujuan saya mendaki gunung bareng anak adalah menikmati kebersamaan. Naik gunung cuma sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

 
Box:
Sampah? No Way!

Gunung (Mount, Mt) Kindabalu yang berketinggian 4.095 meter di atas permukaan laun (mdpl) adalah gunung tertinggi di Pulau Borneo (Kalimantan) yang masuk dalam wilayah geografis Sabah, Malaysia. Oleh sebab itu, jenis vegetasi dan fauna yang kita temui di sana pun mirip dengan gunung-gunung di Indonesia.

Perbedaan paling menonjol dari Mt. Kinabalu dan gunung-gunung di Indonesia adalah manajemen operasional pendakiannya yang sangat profesional. Hanya dibuka satu akses jalur pendakian sehingga petugas dapat mengontrol setiap orang yang masuk dalam kawasan tersebut. Sebelum mendaki, seluruh peserta wajib mendaftar di Kinabalu Parks Headquarters (1.564 mdpl) dan wajib membayar biaya yang tidak murah. Semua biaya pendaftaran dan informasi tentang Mt. Kinabalu ini sangat mudah diakses melalui situs resmi: http://www.mountkinabalu.com

Setelah mendaftar, pendaki mendapatkan tanda pengenal bertuliskan nama dan kode pendakian (name tag) yang wajib dipakai selama pendakian. Name tag ini juga wajib ditunjukkan setiap kali melewati check point.  Jadi, tak bisa sembarangan mau mendaki lalu datang dan mendaftar. Sebab, mereka membatasi jumlah pendaki setiap hari maksimal 130 orang. Ketika saya mendaki, mereka tengah menambah jumlah kamar di area penginapan sehingga tahun depan diharapkan dapat menampung pendaki sekitar 200 orang per hari.

Setelah melakukan registrasi, pendaki akan diantar dari kantor pendaftaran menuju Timpohon Gate (1.866 mdpl). Di Timpohon Gate ini, ada petugas yang mencatat name tag peserta yang masuk melewati pintu gerbang ke jalur pendakian. Kalau Anda tidak mendaki gunung –yang ditandai dengan kepemilikan name tag-- jangan harap dapat menikmati air terjun Carson Waterfall yang berada cuma 500 meter dari pintu gerbang.

Dari gerbang pendakian ini, hanya ada satu jalan dengan rambu-rambu yang sangat jelas, menuju ke Laban Rata Resthouse (3.723 mdpl). Jalur pendakian ini sangat terawat dan terjaga kebersihannya. Saking terawatnya, sebagian besar jalur pendakian telah dibuatkan anak tangga dari kayu dengan kualitas yang sangat bagus.

Selama pendakian, saya juga tidak menemukan satu puntung rokok pun di jalan, apalagi kantong plastik bekas, plastik bungkus mie instant atau plastik kecil bungkus permen. Memang, pendaki dilarang membuang sampah sembarangan, apalagi menginap dan membuka tenda di jalan. Bukan saja dilarang, nyaris tak ada tanah datar sepanjang jalan yang bisa dipakai untuk membuka tenda.

Untuk beristirahat, pengelola telah menyediakan shelter yang bagus, dengan tempat sampah yang besar dan dilindungi oleh kawat berongga agar sampah tidak diacak-acak oleh tupai atau binatang lain. Tak kurang ada 6 shelter selama perjalanan sejauh 6 km dari Timpohon menuju Laban Rata. Artinya, setiap kilometer kita dapat beristirahat dengan nyaman, membuang sampah dan menggunakan toilet.

Di setiap shelter ini juga, ada dua kamar mandi dengan toilet duduk. Acungan jempol kepada pengelola makin layak diberikan karena di setiap toilet air mengalir tanpa hambatan dan flash toilet tidak satu pun yang bermasalah.

 

Akan halnya pendaki dalam keadaan darurat kehabisan air minum, di setiap shelter ini tersedia air asli pegunungan, yang kendati belum melalui proses filterisasi, namun layak minum.

Memang, Malaysia cuma punya satu gunung yang ramai didaki, sedang Indonesia memiliki puluhan gunung yang ramai dikunjungi. Namun apabila kita dapat mengelola satu atau dua gunung saja secara profesional (dalam hal pengelolaan sampah, jalur pendakian, porter, toilet hingga penginapan), semisal Gunung Rinjani di Lombok atau Gunung Semeru di Jawa Timur, niscaya gunung-gunung lain pun pelan-pelan akan ikut menjadi lebih baik. Semoga!

Comments

Popular Posts